Skadron Udara 32

Profil

Sejarah Skadron Udara 32

Pertumbuhan Skadron Udara 32 tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan sejarah TNI AU sebagai induknya. Oleh karena itu harus bersumber dan dijiwai oleh hasil perjuangan TNI AU secara keseluruhan. Dari rekaman sejarah dapat diketahui bahwa perkembangan sejarah TNI AU dibagi dalam empat periode :

1.Periode perintisan kekuatan udara nasional (1945 – 1949)

2.Periode pembangunan Swa Bhuana Paksa (1950 – 1959)

3.Periode tantangan bagi kekuatan Dirgantara Nasional (1959 – 1965)

4.Periode pembangunan Dirgantara Nasional (1966 – sekarang) .


Pembentukan Skadron Udara 32

Pada tahun 1964 negara dan bangsa Indonesia menghadapi suatu konfrontasi dengan Malaysia. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan operasi udara termasuk operasi lintas udara semakin meningkat sehingga dengan demikian dibutuhkan tambahan pesawat-pesawat angkut. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka pada tanggal 29 September 1964 didatangkan pesawat-pesawat AN-12B Antonov dari Rusia. Kedatangan pesawat ini segera diolah untuk secepatnya memasuki jajaran skadron angkut udara untuk ikut mensukseskan Dwi Kora yang dicetuskan pada tanggal 1 Mei 1964. Dengan mengingat beberapa keputusan:

1.Keputusan Presiden RI No. 215 tahun 1964

2.Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No. 17 tahun 1965 3.Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No. 31 tahun 1965

Menteri/Panglima Angkatan Udara mengeluarkan “Surat Keputusan No. 52 tahun 1965 tanggal 20 Juli 1965 tentang “Pembentukan Skadron Udara 32 AN-12B “, yang mana diantaranya menetapkan :

1.Membentuk Skadron Angkut Udara, selanjutnya disebut Skadron Udara 32

2.Skadron tersebut dilengkapi dengan pesawat terbang angkut tipe AN-12B

3.Skadron ini organik dimasukkan dalam Komando Operasi (sekarang Kopatdara)

4.Tempat kedudukan di Pangkalan Angkatan Udara Husein Sastranegara

Likuidasi Skadron Udara 32

Situasi politik setelah meletusnya pemberontakan G-30S/PKI maka hubungan Indonesia dengan negara-negara berhaluan komunis menjadi renggang sehingga berpengaruh terhadap berbagai masalah diantaranya suku cadang pesawat AN-12B Antonov menjadi sulit. Keadaan ini belum dapat ditunjang oleh kemampuan industri penerbangan kita yang belum memadai. Hal ini menyebabkan turunnya kemampuan operasional Skadron Udara 32 sehingga pimpinan TNI AU pada tahun 1974 memutuskan untuk melikuidasi Skadron Udara 32.

Setelah beberapa tahun tidak aktif dalam percaturan kegiatan TNI AU umumnya dan Kopatdara khususnya, menjelang memasuki dekade 80-an dimana stabilitas ekonomi dan politik mulai membaik, maka timbul gagasan-gagasan dari pimpinan untuk mengaktifkan kembali Skadron Udara 32. Dalam rangka realisasi Renstra Hankam 1979-1983, TNI AU mendapatkan tambahan armada udaranya dengan berbagai jenis pesawat udara termasuk pesawat angkut berat C-130 Hercules sehingga perlu dibentuk Skadron Hercules baru yaitu dengan mengaktifkan kembali Skadron Udara 32 yang telah dilikuidasi pada tahun 1974 dengan mengacu kepada :

1.Keputusan Presiden RI No. 7 tahun 1979 Jis No. 80 tahun 1969, No. 79 tahun 1969 dan No. 132 tahun 1967

2.Keputusan Presiden RI No. 42/ABRI/1977

3.Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata No. KEP/14/IV/1976 Jo No. KEP/A/33/VI/1971

4.Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara No. KEP/19/V/1978

Pengaktifan Kembali Skadron Udara 32

Kasau mengeluarkan Surat Keputusan No. KEP/21/V/1981 tanggal 20 Mei 1981 tentang Pengaktifan Kembali Skadron Udara 32, yang mana diantaranya menetapkan :

1.Membentuk kembali Skadron Udara 32 di dalam organisasi Komando Paduan Tempur Udara (Kopatdara)

2.Skadron Udara 32 merupakan Skadron Angkut Berat yang pada tahap pertama dilengkapi dengan pesawat udara tipe C-130 Hercules

3.Skadron Udara 32 berkedudukan di Lanud Abdulrachman Saleh

4.Tugas pokok Skadron Udara 32, melakukan operasi angkut udara strategis, angkut udara taktis, operasi udara khusus dan angkutan udara militer.


Disalin berdasarkan aslinya

Sumber : Skadron Udara 32